Kasih Ibu dan Air Susu


Adakah yang menandingi kasih ibu? Sejak anak memulai kehidupannya, seorang ibu akan mempertaruhkan segalanya untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.

Maya Wulandari (34) sedang berada di kantor ketika teleponnya berdering dan suara di seberang sana memberikan kabar mengejutkan. ”Bu, listrik di rumah mati sejak pagi, sudah delapan jam. Susu di kulkas basi semua….”

Maya menangis sejadinya. Yang dimaksud ”susu” adalah tabungan air susu ibu (ASI) miliknya yang dikumpulkan dengan susah payah agar anaknya, Elang, yang kala itu masih berusia enam bulan, bisa memperoleh ASI eksklusif.

”Jumlahnya puluhan botol, masing-masing 150 ml. Sampai di rumah, saya hanya bisa menangis ketika membuang isi botol susu. Saya tidak sanggup membuangnya ke lubang toilet. Jadi, saya siramkan ke tanaman saja,” kata Maya.

Ia pantas menangis karena perjuangan untuk menghasilkan satu botol susu saja tak mudah. Begitu keluar rumah dengan sepeda motornya pukul 05.30, Maya harus memompa ASI-nya di kantor minimal empat kali karena ia baru bisa kembali di rumah pukul 20.00.

”Saya memompa ASI di kamar mandi karena kantor saya saat itu belum punya ruang laktasi. Tetapi, gara-gara saya memompa, yang antre di luar toilet jadi panjang. Sebagian yang menunggu mengeluh. Itu membuat saya stres. Untung suara pompa elektrik yang saya gunakan terdengar sampai keluar. Jadi, saya hanya berharap yang mengantre maklum,” kata Maya.

Pengalaman Inda Malinda (29), yang pada saat menyusui masih menjadi karyawan sebuah perusahaan operator telepon seluler, juga tak kalah riskan. Ia harus memerah ASI-nya di kolong meja.

”Saya harus mencari kolong meja, lalu memompa ASI cepat-cepat. Meja saya tutupi dengan kursi-kursi. Saya minta tolong teman untuk menjaga kalau-kalau ada orang yang lewat. Dia akan mengatakan kepada orang yang mau melintas, ’Eh, jangan lewat sini, ada yang lagi mompa’,” kata Inda.

Bagi ibu-ibu pekerja di kota besar seperti Jakarta, mengupayakan ASI eksklusif selama enam bulan bagi bayi mereka seperti yang dianjurkan dunia kedokteran menjadi penuh perjuangan. Para ibu harus ”jungkir balik” untuk menekan stres akibat minimnya fasilitas dan dukungan dari lingkungan sekitar. Belum lagi kondisi Jakarta yang tidak ramah. Jalan yang selalu macet, angkutan umum yang saling impit dan berdesakan.

”Di kota seperti Jakarta, lingkungan yang kurang mendukung menjadi faktor dominan kesulitan ibu untuk menyusui. Banyak ibu menyusui adalah pekerja, dan mereka banyak yang tidak mendapat dukungan dari kantornya. Itu menjadikan kondisi perempuan terjepit,” ujar Ketua Satgas Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dokter I Gusti Nyoman Partiwi yang memaparkan hasil riset kualitatif IDAI di beberapa kota.

Dukungan dari kantor, menurut Partiwi, tidak cukup dengan sekadar menyediakan ruang laktasi. Tetapi, karyawan yang bersangkutan perlu diberi waktu untuk memompa ASI-nya dan merasa nyaman dengan kondisinya.

Merujuk pada kasus Maya, beberapa bulan kemudian, sekitar pengujung tahun 2010, kantornya menyediakan ruang laktasi yang, walaupun sempit, cukup aman bagi para ibu untuk memerah ASI-nya. ”Tetapi, yang membuat saya nyaman adalah dukungan dari atasan maupun rekan sejawat,” ujarnya.

Masa depan kita
Saat ini hanya 22-27 persen ibu di Indonesia yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Padahal, persentase kematian bayi di Indonesia sekitar 35 persen dari 1.000 kelahiran. Dan itu terjadi pada usia bayi 0-40 hari. Pemberian ASI eksklusif, demikian Partiwi, bisa mencegah 13 persen angka kematian bayi.

Untung saja, di tengah segala keruwetan itu, tetap banyak ibu yang punya mimpi besar tentang masa depan generasi bangsa yang lebih baik. Ikhtiar itu dilakukan dengan memberikan nutrisi terbaik melalui ASI. Seperti pemandu acara Sophie Navita (34) yang akhir tahun lalu dinobatkan sebagai satu dari 10 tokoh ”Pendekar Anak” oleh Unicef berkat kepeduliannya pada pemberian ASI eksklusif.

”Sewaktu memberikan ASI kepada anak pertama saya, Rangga (7), dahulu, saya banyak mengalami kesulitan karena pengetahuan saya masih minim soal manajemen laktasi. Padahal, seharusnya hal itu mudah diatasi karena ada caranya. Karena pengalaman itu, saya bertekad jangan sampai ibu-ibu lain mengalami hal seperti saya,” kata Sophie, yang kini menjadi konselor laktasi.

Sahabat Sophie, Artika Sari Devi (31), juga berkomitmen menyosialisasikan ASI. Demi bisa memberikan ASI eksklusif selama enam bulan kepada putrinya, Sarah Abiela ”Abby” Ibrahim (16 bulan), ia mengajukan syarat bagi pihak mana pun yang menawarinya pekerjaan. Di antaranya, ia minta disediakan tempat berpendingin udara untuk menempatkan anaknya yang ikut ke mana pun ia pergi. Selain itu, ia juga meminta waktu istirahat beberapa jam agar bisa menyusui Abby.

Persyaratan itu diajukan resmi hitam di atas putih oleh Artika. Ini sekaligus menjadi upayanya untuk menyosialisasikan aturan perlindungan terhadap ibu menyusui yang terdapat dalam UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Misalnya saja, dalam Pasal 128 antara lain disebutkan, ”setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis”.

Dalam ayat berikutnya juga disebutkan, ”selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus”.

Rarasati Syarief, wartawan media nasional yang sudah delapan tahun terakhir bertugas meliput di lingkungan Istana Presiden, juga membuat perjanjian dengan kantor tempatnya bekerja setelah cuti melahirkannya habis. Ia meminta agar tidak ditugaskan ke luar kota dan ke luar negeri sampai anaknya berumur dua tahun.

Farahdhiba Tenrilemba (32) juga merasa beruntung karena tempatnya bekerja memberi izin cuti melahirkan selama enam bulan agar ia bisa memberikan ASI secara eksklusif. ”Tetapi, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja supaya bisa selalu berada di samping Rafa,” kata Dhiba.

Momen menyusui putranya, bagi Dhiba, adalah yang bisa menguatkannya untuk tetap ”hidup”. Dia harus tetap bertahan ketika suami menceraikannya pada saat Rafa baru berusia 1,5 tahun. ”Di tengah cobaan itu, hanya Rafa-lah yang membuat saya berpikir bahwa saya harus tegar. Saya harus tetap ada supaya bisa menyusuinya. Karena bagi saya saat itu, semuanya terasa ’mati’,” kata Dhiba yang akhirnya berhasil menyusui Rafa sampai sang anak berusia dua tahun tujuh bulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: